Saturday 16 November 2013

Kampung Mutihan (3 November 2013)

Minggu pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, kami kembali menelusuri Kampung Mutihan. Merasa kurang menyerap apa yang ada di kampung ini, membuat kami ingin kembali ke sana. Di kunjungan kali ini kami memilih untuk berjalan kaki sehingga menitipkan kendaraan kami di rumah Very.

Kampung Mutihan ternyata cukup luas. Hal ini kami rasakan saat berjalan mengelilingi kampung tersebut. Kampung ini dibatasi oleh Kampung Premulung, Kampung Pajang, Kampung Jatirejo, dan sebuah sungai di selatan. Entah apa nama sungai ini karena saat ditanyakan kepada warga, mereka juga tidak tahu menahu.

Sungai di selatan Kampung Mutihan


Tempat olahraga di Mutihan selain ada lapangan yang luas, juga ada lapangan kecil di dekat halaman rumah warga dan sebuah arena futsal. Nama arena futsal tersebut adalah Mutihan Futsal. Pada hari Minggu tempat tersebut terlihat ramai saat kami kunjungi. Lalu, kami mampir ke sebuah warung sembari melihat-lihat pertandingan futsal dan apa saja yang ada di Mutihan Futsal ini.

Di sini, pemainnya tidak hanya anak-anak, tetapi juga bapak-bapak. Fasilitas yang ada di Mutihan Futsal cukup lengkap. Ada kantin, toilet, mushola, dan tempat parker. Di sini juga ada sebuah meja tenis meja yang masih dilipat. Mungkin di saat tertentu di sini juga diadakan olahraga tenis meja. Sistem kebersihannya juga bagus. Botol-botol bekas minum terkumpul rapi dalam sebuah plastic. Orang yang datang ke sini terlihat gembira. Kalah menang seakan tidak menjadi soal, yang penting badan mereka sehat dan dapat bersosialisasi di sini. Satu yang menurutku kurang mengenakan, harga minuman di kantin ini bisa dibilang cukup mahal. Jika ingin berhemat, orang-orang yang ingin bermain di sini lebih baik membawa minum dari rumah.

Mutihan Futsal memiliki jadwal pertandingan. Dalam jadwal tersebut, pertandingan banyak dilakukan pada sore hari di hari Senin hingga Sabtu. Di hari Minggu, jadwal pertandingan bisa dikatakan penuh. Instansi yang tertulis dalam jadwal berbeda-beda. Ini artinya Mutihan Futsal bisa dikatakan tempat yang nyaman untuk bermain futsal, meski tempatnya agak tersembunyi.

Rumah-rumah di Kampung Mutihan terlihat sangat kontras. Beberapa rumah dibangun dengan megah tetapi ada juga yang bisa dikatakan kurang layak. Jaraknya pun hanya sejengkal saja untuk membedakan rumah antara si kaya dan si miskin ini.

Saat berjalan di jalan yang bukan aspal, kami melihat sebuah rumah yang bisa dikatakan unik. Sebuah parabola yang terbuat dari barang bekas menghiasi atap rumah tersebut. Mungkin pemilik rumah tersebut adalah orang yang kreatif sehingga tidak perlu membeli parabola mahal yang dijual di toko-toko.

Di depan rumah warga, banyak diletakkan sebuah keranjang sampah dari bamboo. Menurut Ibu Tri Mastuti, Ibu Ketua RT 02 RW X Kampung Mutihan, nantinya aka nada petugas sampah dari kelurahan yang mengumpulkan sampah warga dari tiap-tiap keranjang sampah tersebut. Hal ini terbukti ketika kami kembali ke rumah Very, seorang bapak tengah mendorong sebuah gerobak penuh sampah hasil dari mengumpulkan sampah di tiap rumah.

Sanitasi di Kampung Mutihan, layaknya di kampung lain di Surakarta, disalurkan ke salah satu IPAL di Surakarta. Jadi, tidak ada septic tank di kampung ini. Karena itu, warga banyak yang memanfaatkan air dari tanah dengan membuat sumur. Mereka tidak perlu cemas akan pencemaran air yang bisa terjadi jika mereka memiliki septic tank. Dengan rumah yang padat seperti itu, sistem ini memang memiliki manfaat lebih.

Di depan rumah warga, kami sering melihat fenomena menarik. Jika dulu biasanya orang menjemur baju mereka di tempat tersembunyi, di belakang rumah misalnya, di sini kami malah banyak melihat orang-orang menjemur pakaian mereka di pinggir jalan. Mungkin karena sudah tidak ada lahan lagi sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain.

Kami lalu berhenti sejenak di sebuah masjid, namanya Masjid Ar Rohmah. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.15. Masjid nampak sepi dan terkunci. Ketika melihat-lihat suasana masjid, kami dikejutkan oleh seorang bapak-bapak. Ternyata beliau diamanahi untuk menjaga masjid tersebut sementara waktu karena takmirnya sedang menunaikan ibadah haji. Saat kami menanyakan tentang kondisi masjid ini dan pengelolaannya, bapak tersebut malah menyuruh kami untuk bertemu dengan Ibu Tri Mastuti.

Dari Ibu Tri Mastuti, kami mendapat banyak informasi, tidak hanya tentang keadaan masjid tetapi juga mengenai keadaan Kampung Mutihan, di RT 02 RW X khususnya. Setiap Selasa malam, ada pengajian untuk ibu-ibu. Sedangkan pada Senin malam, ada pengajian tafsir untuk bapak-bapak.


MCK

MCK di Kampung Mutihan terdapat dua MCK. Keduanya terletak di kawasan industri batik Kampung Mutihan. MCK ini dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum Surakarta. Hanya saja keadaan di salah satu MCK tersebut sedikit memprihatinkan karena letaknya yang terlalu pelosok dan dekat dengan sungai. Dan juga di dekatnya digunakan untuk kandang itik sehingga banyak kotoran itik yang berdampak pada kebersihan MCK tersebut. Tentunya perlu campur tangan dari masyarakat agar fasilitas tersebut dapat terjaga kebersihannya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...